Rabu, 14 Mei 2014

Bisa Hamilkah Pak?

Anak-anak memang sangat lugu. Saya teringat dengan percakapan di malam hari antara saya dengan beberapa siswa SMP yang sedang menikmati liburan. Ketika kami sedang berbincang mengenai pergaulan remaja, seorang anak bertanya:

"Pak, kalo anak laki lakinya belum mimpi basah, tapi perempuannya sudah menstruasi, apa bisa hamil pak kalo ...." sambil malu-malu ngelanjutin pertanyaan.

"Kalo Apa? Pada dasarnya, seorang anak perempuan bisa hamil kalau sudah mulai menstruasi, dan seorang anak-laki laki bisa menjadi bapak, ketika mereka sudah mimpi basah. Namun demikian, tetap saja, semuanya itu harus didahului oleh ikatan pernikahan loh ya" saut saya

Ah, percakapan itu membuat saya tersadar untuk mulai mengarahkan dan mengenalkan mereka mengenai hal yang mungkin dianggap tabu oleh sebagian orang tua, yaitu Pendidikan Seks Anak Usia Dini.

Dari percakapan tersebut, timbullah ide untuk bertemu Badan Urusan Perempuan untuk berkonsultasi mengenai pendidikan seks. Semoga saya memperoleh sisi terang ya. 

[Labuha, Halmahera Selatan, 12 April 2014]

Siang itu, sepulang dari mengajar, saya duduk di dermaga desa untuk melihat keadaan sekeliling. Keadaannya tidak berubah. Lautan luas terhampar, jernih, namun tidak begitu indah. 

Kemudian saya berpikir : Kapan ya bisa liat lautan bersih di Desa Waya? 

Dengan maksud mencari jawaban akan pertanyaan tersebut, saya memutuskan untuk mengajak anak-anak untuk menjelajah laut yang ada di depan desa dengan menggunakan koli-koli (perahu dayung). Saat itu, saya mengajak sekitar 6 orang anak untuk mendayung bersama. Dayung demi dayung kami lakukan. Sedikit demi sedikit kondisi air laut berubah. Tak jauh kami mendayung, terhamparlah lautan jernih dengan dihiasi indahnya ikan dan terumbu karang yang begitu cantik. Benar-benar pemandangan alam yang begitu menakjubkan.

Kemudian, ada seorang anak bertanya : "Apa Bapak senang?"

Saya sontak terkaget; dengan cepat saya langsung menjawab. "Tentu, bapak sangat senang"

Anak itu pun langsung menanggapi : "Wah, saya juga senang kalau bapak senang."

Saya meleleh. Begitu tulusnya mereka menemani saya. Bahkan terkadang, mereka tidak membiarkan saya untuk merasa kelelahan, mereka tidak akan membiarkan saya mendayung terlalu lama.

Dari peristiwa tersebut saya diingatkan untuk terus bersyukur, karena disekeliling saya, masih banyak orang yang menyayangi dengan ikhlas.

Tuhan, terima kasih untuk setiap detik berharga di desa ini.
Saya sangat senang, saya sangat menikmati, saya sangat tenang.

Biarlah tidak ada listrik, karena sesungguhnya dengan tidak ada listrik saya bisa melihat isi bumi ini dengan begitu nyata, bukan lewat televisi ataupun internet.

Biarlah tidak ada signal, karena sesungguhnya dengan tidak ada signal, dapat terjalin interaksi yang asli, sambil menatap muka dan dari hati ke hati.

Biarkanlah kami terus menikmati dan mensyukuri keindahan yang Engkau berikan.

Jumat, 09 Mei 2014

Foto Semangat untuk Siswaku!

Ujian Nasional sudah tampak di depan mata,
tapi kemana gurunya?

Walau saya tidak ada di Waya, tetapi hati dan doa ini selalu menyertai kalian, Nak :)



















Sampai bertemu di hari Ujian Nasional :)

Tiga Bulan Awal Beradaptasi

Penyambutan oleh Kepala Desa Waya

Hari-hariku kini sedikit berbeda. Tidak ada lagi suara patrick dan spongebob menyaut di pagi hari. Tidak ada lagi kicauan suara presenter berita di TV yang mengabarkan situasi terkini dari dalam negeri. Pagi hariku kini hadir dengan nuansa suara mesin kapal dan syahdunya kicauan burung di tepi dermaga.
Desa Waya, tempat di mana aku kini ditugaskan, merupakan sebuah desa yang berada di Kecamatan Mandioli Utara, Halmahera Selatan dengan penduduk tidak lebih dari 700 jiwa. Kawasan pemukiman di desaku ini sungguh tidaklah luas. Tak perlu waktu yang lama untuk mengelilingi desa, cukup dengan dua puluh menit, aku bisa berkeliling desa.
Kehidupan pinggir laut yang membuat penduduk di sini tidak asing dengan limpahan ikan segar (ya, ikan segar, ikan yang baru saja ditangkap dari laut, bukan ikan yang sudah dibekukan berhari-hari) yang siap disantap dengan berbagai bentuk sajian.
Penyambutan oleh siswa siswi SDN Waya dan PAUD Bougenville
Sebenarnya, desa ini tidak jauh berbeda dengan pesisir desaku di Cirebon. Hanya saja di sini kondisi lautnya lebih  bersih dan tentu saja budaya maluku utara yang cukup kental. Ketika di Cirebon aku cukup akrab dengan kata ira dan isun, di sini aku sudah tidak aneh dengan kata kita ataupun ngoni/ngana.
Aku yang sudah tiga bulan menginjakkan diri di tanah maluku pun mencoba membuka diri untuk beradaptasi dengan lingkungan yang akan aku singgahi untuk satu tahun ke depan. Terkadang, orang-orang di sekitarku tertawa karena aneh mendengar apa yang aku ucapkan. Tapi, usaha yang ku buat tak akan pernah berakhir.
Piknik bersama warga kampung
“Pak Jaka, pi mana?”  Ucap seorang warga. Dan tepat sekali, aku hanya bisa melongo saat itu. “Ngoni pi mana deng tas?” Sekali lagi warga lain menanyakan. Dan responku kembali sama : “Hah?” sambil membuat tampang seolah bertanya apa arti dari kalimat yang dimaksud. Setelah bertanya, ternyata warga tersebut bertanya “ Pak Jaka, Mau pergi ke mana?” “Mau pergi ke manakah menggunakan tas?”. Setelah tahu apa arti yang dimaksud, aku langsung menjawab : “Oh, mau pulang ke rumah” Jawabku masih lurus. Berbagai kata dari bahasa maluku pasar pun sedikit demi sedikit aku pelajari. Kini, aku sudah berani untuk berbicara bahasa maluku walaupun hanya dengan siswa-siswaku. Aku tinggal bersama keluarga piaraku, sebutan untuk keluarga yang menerima seseorang dalam waktu yang cukup lama.
Aku tinggal di sebuah rumah di pinggiran dermaga. Di rumah, keluarga piaraku hanya ada mamah dan adik piara. Bapak piaraku sering pergi berlayar ke pulau seberang. Adik piaraku bernama sasti, namun kerap dipanggil dengan sebutan Kelle duduk di kelas lima. Sebenarnya mama piaraku memiliki 4 anak lagi, satu orang bertugas menjadi bidan di desa sebelah, satu orang lagi masih sedang menyelesaikan kuliahnya di Ternate, 2 orang menetap di Obi dan satu orang menjadi mahasiswa di Makassar.
Warga di desaku sangat ramah. Walau memiliki intonasi suara yang cukup keras, namun mereka semua sangat baik. Mereka ini jika dianalogikan seperti buah durian, Berduri di luar, namun manis di dalam.  Setiap sore, selepas mengajar di Madrasah Al-Khairaat, madrasah yang baru saja dibuka ketika aku mulai mengajar, atau setelah memberikan pelajaran tambahan untuk siswa kelas VI,  aku mencoba berinteraksi dengan warga sekitar. Aku memulainya dengan mengunjungi satu demi satu rumah muridku. Mereka menerimaku dengan sangat baik. Tak jarang juga aku disuguhi sagu dengan teh manis hangat. 
Beginilah keadaan desaku. Sebuah desa yang hanya dapat diakses dari Labuha (Ibu Kota Halmahera Selatan) menggunakan motor (kapal dalam bahasa maluku) setiap hari Senin, Kamis dan Sabtu. Desa kecil di utara Pulau Mandioli. Desa yang membuat aku sedikit menyesal karena tidak bisa berenang. Ah, sudahlah. Satu tahun ke depan, aku pasti sudah kembali sebagai perenang yang ulung (harapku).

Pejuang yang Terbangun dari Tidurnya




















Namanya Sahrul Arsad.  
Saya jadi ingat  tentang awal pertemuan saya dengan Alul (nama panggilan Sahrul).  
Malam itu, Dia datang ke depan rumah bersama dengan 2 rekannya. Saat itu statusnya masih belum lagi menjadi siswa SD. Ya, kurang lebih setahun dia habiskan waktunya dengan tidak bersekolah.   
Kala itu saya bertanya, "Kenapa ngana tara sakola, kong?"
Dia menjawab : "Barang bapa tara kasi izin kita sakola, barang tarada seragam juga"  
Saya penasaran. Saya datangi ayahnya. 
Oh, rupanya dia seorang piatu. Ibunya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu. Dulu ia sempat bersekolah hingga kelas 5, namun karena kenakalannya yang jarang masuk sekolah, ayahnya menariknya mundur dari dunia sekolah.   Setelah memperoleh penjelasan dari ayahnya, saya yang saat itu ditemani oleh salah seorang rekan guru memberanikan diri untuk bertanya.
 "Bapak, kalau Alul sekolah lagi bagaimana? Ini mumpung sekolah baru mulai semester genap. Kan Alul kemaren berhenti sekolahnya pas semester ganjil, sekarang bisa langsung lanjut semester genap Pak"  
Saya langsung melihat ekspresi bapak Arsad (bapak dari Alul). Mukanya agak pucat.  Dia langsung memanggil salah seorang anaknya. Ia langsung meminta pendapat  kepada anaknya yang sudah berkeluarga. Ternyata, dia adalah salah satu anak yang menyokong kehidupan keluarganya.  
Setelah berdiskusi cukup lama, akhirnya Bapak Arsad pun mengizinkan Alul untuk bersekolah kembali dengan syarat kalau Alul nakal lagi, ia tidak segan-segan untuk menariknya lagi dari sekolah. Namun ada satu hal yang mengganjal, Alul tidak mempunyai seragam sekolah. Seragam lamanya telah robek.  
"Tenang saja, Pak. Nanti saya akan bilang kepada kepala sekolah untuk meminta Izin agar Alul bisa bersekolah dengan pakaian sehari-hari saja" jawab saya.   Alul pun menyambut kabar baik ini dengan penuh suka cita. Dia dengan cepat beradaptasi dengan teman-teman (yang dulu menjadi adik kelasnya) di kelas 5.  
Menyelam bersama Alul
Kesempatan menjadi siswa SD (lagi) sangat ia manfaatkan dengan baik. Ia tidak sedikitpun merasa malu untuk datang ke sekolah dengan menggunakan baju sehari-hari. Ia pun cepat larut kembali dalam kehidupan anak sekolah yang begitu ceria. Bermain bola semasa istirahat, berlatih dan bertanding bola bersama Waya Football Club, mendayung bersama ke tengah laut, mandi di sungai dan belajar bersama di malam hari ia lakukan bersama teman-teman sebayanya.  
Pasukan Gerak Jalan Putera SD Negeri Waya
Minggu lalu, ketika perayaan Hari Pendidikan Nasional di Halmahera Selatan, ia memperoleh mandat untuk menjadi komandan Regu Gerak Jalan Putra SDN Waya.   Perjuangannya untuk mengumpulkan teman-temannya agar segera berlatih sungguh sangat diacungi jempol. Peringatan dari gurunya "kalau tidak benar-benar berlatih, tim gerak jalan putra tidak akan diikutsertakan lomba" membuat dia tak tinggal diam. Berlatih keras! Setiap hari!  
Kerja kerasnya tidak sia-sia. Timnya berhasil meyakinkan guru-guru bahwa mereka siap berkompetisi dengan siswa-siswa di kota. Hasilnya pun tidak bisa dianggap remeh. Walau tidak berhasil memperoleh predikat juara, mereka sudah memberikan penampilan yang paling prima yang mereka miliki.  
Pasuka Gerak Jalan SD Negeri Waya
Dari Alul saya belajar, bahwa mungkin masih banyak anak-anak lain yang terpaksa tidur di tengah perjuangannya meraih mimpi.  

Tugas kita hanya satu, segera membangunkan dan mengarahkannya ke pintu mimpi yang ia inginkan.  
Betapa saya tersadarkan bahwa semangat anak Indonesia itu masih ada. Optimisme itu akan tetap ada dan selalu ada.  
ORA ET LABORA!