Siang itu, sepulang dari mengajar, saya duduk di dermaga desa untuk melihat keadaan sekeliling. Keadaannya tidak berubah. Lautan luas terhampar, jernih, namun tidak begitu indah.
Kemudian saya berpikir : Kapan ya bisa liat lautan bersih di Desa Waya?
Dengan maksud mencari jawaban akan pertanyaan tersebut, saya memutuskan untuk mengajak anak-anak untuk menjelajah laut yang ada di depan desa dengan menggunakan koli-koli (perahu dayung). Saat itu, saya mengajak sekitar 6 orang anak untuk mendayung bersama. Dayung demi dayung kami lakukan. Sedikit demi sedikit kondisi air laut berubah. Tak jauh kami mendayung, terhamparlah lautan jernih dengan dihiasi indahnya ikan dan terumbu karang yang begitu cantik. Benar-benar pemandangan alam yang begitu menakjubkan.
Kemudian, ada seorang anak bertanya : "Apa Bapak senang?"
Saya sontak terkaget; dengan cepat saya langsung menjawab. "Tentu, bapak sangat senang"
Anak itu pun langsung menanggapi : "Wah, saya juga senang kalau bapak senang."
Saya meleleh. Begitu tulusnya mereka menemani saya. Bahkan terkadang, mereka tidak membiarkan saya untuk merasa kelelahan, mereka tidak akan membiarkan saya mendayung terlalu lama.
Dari peristiwa tersebut saya diingatkan untuk terus bersyukur, karena disekeliling saya, masih banyak orang yang menyayangi dengan ikhlas.
Tuhan, terima kasih untuk setiap detik berharga di desa ini.
Saya sangat senang, saya sangat menikmati, saya sangat tenang.
Biarlah tidak ada listrik, karena sesungguhnya dengan tidak ada listrik saya bisa melihat isi bumi ini dengan begitu nyata, bukan lewat televisi ataupun internet.
Biarlah tidak ada signal, karena sesungguhnya dengan tidak ada signal, dapat terjalin interaksi yang asli, sambil menatap muka dan dari hati ke hati.
Biarkanlah kami terus menikmati dan mensyukuri keindahan yang Engkau berikan.
Alhamdulillah.. senang sekali bisa berada di sana, yaa
BalasHapus